Minggu lalu saya dan istri sempat dinner dengan seorang photographer fashion kondang di Jakarta. Mengetahui beliau berinteraksi banyak dengan mahkluk-makhluk halus dan cantik di metropolitan ini, bak wartawan infotainment saya mengajukan pertanyaaan,”mas, kenapa sih Luna Maya koq akhir-akhir ini kesannya nyabet segala jenis iklan produk?” Dibalik pertanyaan itu, sesungguhnya ada perasaan tidak terima tampang sicantik Luna jadi ngebosenin gara-gara getol tayang. Jawabannya, ibarat lari 4X400meter, dia diposisi sebagai pelari keempat yang harus sprint, mumpung masih banyak tawaran. Masa sih? Terus, istri saya lanjut nanya koq bisa sih Julia Perez jadi ngetop begitu? Aha! kalau yang ini saya punya teori sendiri. Menurut saya, Julia ngetop karena punya strategy go to market yang lumayan baik dan dia cukup konsisten dengan core value nya. Ibarat banyak jalan menuju Roma, keterlaluan kalau lewat Mangga Besar. Julia jitu menerapakan strategy stupid blonde yang mengandalkan lingkar dada sebesar polisi tidur dan konsistensi bertutur ala perempuan bodoh karena lelaki memang tidak merasa perlu berbicara ketika bertemu dengannya.
Melihat fenomena kemunculan artis-artis Indonesia memang menarik seiring dengan berjamurnya ajang cari bakat yang mencoba mencari ‘Raw diamonds in the mud’. Mereka bermunculan karena sedikit mengkilau ditengah lumpur yang gelap langsung digosok dan dipoles. Akibatnya, kebanyakan yang dikira diamonds tidak laku dipasaran karena memang bukan diamond, tapi zirkon zirkonia. Ajang cari bakat sah-sah saja, cuman bedanya dinegara maju biasanya kita benar-benar terpesona dengan kemunculan ‘diamond’ yang benar-benar asli. Tidak percaya, lihat saja Paul Potts, pemenang Britain Got Talent 2007 yang suaranya seperti Pavarotti, atau coba tahan engak nangis setelah lihat penampilan Ye Eun Ah, pianis buta asal Korea yang baru berusia 5 tahun (anda bisa lihat di youtube.com).
Saya yakin kita sama-sama berharap artis-artis kita bisa tampil di luar negeri bukan sekedar diundang sama anak-anak Indonesia yang tinggal di sana atau untuk sekedar mengobati kerinduan para tenaga kerja penyumbang devisa. Sejujurnya saya hanya tertarik dua topik dari semua acara TV national yaitu, berita dan infotaintment. Yang terakhir saya seperti menemukan oasis setelah berurusan dengan semua urusan formal yang menuntut sikap dan pemikiran yang dalam (percayalah topik stupidity merupakan industry yang paling berharga di abad ini). Ada makna yang serius dibalik kemajuan industry yang mempunyai nilai pengaruh cukup signifikan terhadap generasi MTV, anak-anak muda yang bakalan nantinya memimpin negeri ini.
Mungkin kuncinya awalnya adalah cara pandang terhadap profesi artis yang saya yakini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan profesi yang lain. Cara pandang bahwa setiap profesi menuntut prefesionalitas, dedikasi dan pengembangan diri yang terus menerus.
Sudah bukan jaman lagi berharap diikuti, ditegor dan diajak oleh photographer, casting director atau sutradara untuk diajak audisi. Semua dimulai dengan tujuan yang jelas dan keteguhan hati. Teringat sharingnya Anggun Sasmi yang mengatakan dia sudah bermimpi menjadi penyanyi terkenal sejak kecil dan meneguh kan hati untuk mencapainya. Caranya, adalah setiap pagi bangun lebih awal dan mulai berlatih. Setiap kita bermimpi segeralah bangun dan mandi air dingin dan berlatih. Jenifer lopez sudah membayar biaya les dansanya sendiri sejak berumur 19tahun sambil bekerja paruh waktu. Tidak terhitung jumlah audisi yang gagal diikutinya sampai akhirnya bisa diterima sebagai penari latar. Artis-artis Amerika biasanya sudah jelas dengan bakat awalnya. Apakah seorang dancer, penyanyi, atau pemeran lakon. Yang jelas hampir tidak ada yang sekedar bermodal cantik/ganteng dan sexy/keren, karena orang biasa saja sudah banyak yang punya modal seperti itu bahkan pintar dan punya pekerjaan jelas di corporate!
Penelitian empiris mengatakan orang yang mempunyai penampilan diatas rata-rata mempunyai karir yang lebih baik di hampir semua industry. Jadi muka cantik/ganteng, body semlohai bukan monopoly industry entertainment. Punya segala anugrah physical beauty adalah start yang bagus buat siapa-pun di hampir pekerjaaan manapun. Terlalu mengandalkan anugerah fisik membuat sebagian artis kita menjadi tidak percaya diri, tidak jelas positioningnya, tidak ketahuan sikapnya, siapa diri dia sebenarnya? Maka saya juga rada bingung sama perusahaan yang memakainya juga. Karena, brand equity apa yang mau dibangun kepada target customernya kalau sekedar menggunakan momen keterkenalan seorang artis?
Berikutnya adalah competency building yang harus dilakukan secara terus menerus. Sharpen the Saw kata seorang filsuf management. Waktu Inul muncul secara magical saya bertaruh bahwa itu adalah sekedar fenomena. Ternyata sampai hari ini Inul membuktikan dirinya bukan sekedar fenomena tapi semakin mengukuhkan dirinya adalah realitas seorang yang suksesnya berkelanjutan! Dia mulai bermetaforsis menjalankan role keduanya sebagai enterprenuer. Realitas tersebut menghasilkan efek fenomena berikutnya, terlihat trend artis yang ramai-ramai menjadi venture capitalists. Entah berani merogoh saku sendiri atau berpartner sama yang jagonya masak atau yang memang sudah berpegalaman di bisnis rumah makan, butik, jewelry atau sebagian lain berhasil disokong oleh investor dan menjalankan bisnis barunya dengan menggunkan kekuatan nama artis sebagai nilai tarik. Setelah JLO sukses menajadi penari latar beberapa penyanyi terkenal, dia mulai memerankan lakon di serial TV pendek sebelum akhirnya menjajal talenta di bidang tarik suara.
Teman saya yang fashion photographer itu menambahkan bahwa Titi Kamal merupakan artis Indonesia yang sangat laris dengan bayaran yang cukup mahal. Saya bukan fans nya Titi, tetapi menarik, setelah diteliti dan dibaca-baca, Titi tidak hanya mempunyai wajah dan body yang disenangi kebanyakan warga lelaki di negeri ini tetapi dia memiliki sikap dan pilihan yang jelas atas tawaran dan jenis peran yang dilakoninnya. Dia juga mempunyai strategy yang berkesinambungan dengan bisnis restonya. Alhasil, kalau memang artis kita sadar bahwa mereka adalah ‘Diamond’ bukan ‘zirkon zirkonia’ mereka sudah punya keyakinan diri yang bagus untuk exist. Berikutnya adalah cerita mereka sendiri bagaimana mengasah dan memolesnya sehingga tidak perlu gagap kalau lari hanya cuman ada 4X400 meter. Try the marathon!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar