Senin, 25 Agustus 2008

Sosialita: Possibility is infinite!

Baru-baru ini saya kaget melihat tiga teman lelaki saya beserta pasangannya mulai muncul di majalah-majalah yang menampilkan foto-foto sosialita. Tentu saja saya bangga sama
Ario, Ivan dan Steve. Menarik sekali kalau saya flashback alur kehidupan mereka dan bagaimana mereka sampai ketitik sekarang. Ario selain lumayan pinter, dia memang mewarisi darah sugih (kaya raya). Ivan itu pinternya luar biasa dan agak tricky. Sementara Steve, good looking, charming dan juga smart. Tiga-tiganya punya ambisi yang kuat untuk perform dan suka sekali berkompetisi.

Garis lahir Ario paling beruntung karena memang dilahirkan dalam keluarga kelas konglomerat kecil. Ivan dan Steve mempunyai kesamaan dalam garis lahir, dilahirkan dalam keluarga yang serba sekedar cukup. Kita dipertemukan di SMA yang kebetulan cukup banyak anak-anak borjuis nya – masa yang cukup membuat saya stress karena enga bisa ngikutin gaya teman-teman pada saat itu yang overbudget. Meskipun berbeda ‘income statement-nya’, mereka bertiga karib dan melewati masa-masa kenakalan, cinta monyet dan masa-masa pesta sweet-seventeeen di hotel berbintang. Selepas SMA, Ario pergi ke luar negeri dan melanjutkan ke sekolah anak-anak borjous di California. Sementara Ivan dan Steve melanjutkan kuliah di perguruan tinggi lokal tetapi bereputasi baik.

Setelah kita mulai merintis karier, Ario yang kawin pertama. Perkawinannya sangat mengesankan karena seumur hidup saya tidak pernah melihat ada perkawinan yang tidak hanya mengundang artis-artis top ibukota pada waktu itu, tetapi ada door prize berupa untaian berlian!. Rupanya, mamanya Ario adalah kolektor berlian. Ivan dan Steve berguyon menyesali ketidak-beruntungan mereka untuk mendapatkan door prize ataupun bisa nyosor perempuan-perempuan cantik yang hadir disitu. Ario menikah dengan Kathy, anak konglomerat juga. Kathy itu elegan bicaranya dan belakangan lewat foto-foto dimajalah terlihat dia selalu menjinjing entah handbag Hermes, Channel atau Louis Vutton. Cukup banyak ragamnya dan yang jelas bukan buatan Korea atau Thailand yang sering dimport ke Mangga Dua. Yang lebih sakti, Kathy ternyata merupakan sosok dibalik organisasi penyelamatan anak-anak terlantar. Luar biasa!

Rupanya sosok Ario dan perjalanan hidupnya adalah inspirasi yang kekal buat Ivan dan Steve. Mereka dalam setiap kesempatan hang out tidak henti-hentinya bergunjing bagaimana bisa seperti Ario. Mereka bilang opsi pertama, yaitu lahir dikeluarga kaya raya sudah dicoret dari daftar ‘how to become Ario’. Tinggal dua opsi yang tersisa, menurut mereka “Marrying Up or Working damn hard”. Ivan dan Steve setuju yang terakhir agak riskan karena kalau tidak pas hoky nya susah juga.

Berikutnya alam semesta mempunyai cerita berseri yang menakjubkan. Ivan yang lulus cum laude menjadi lawyer. Beberapa tahun berselang dia menemukan momen ular tangga pada saat negeri ini dihajar dengan kasus BLBI. Dia dengan beberapa temannya mendirikan law firm sendiri dan meraup professional fee yang aduhai untuk mengurusi perusahaan-perusahaan yang terlilit utang. Dalam hitungan tahun jari tangan, dia sudah memiliki asset yang mencengangkan. Ivan menjadi sahabat kaum sosialita karena dianggap sukses menyelamatkan kebangkrutan mereka.

Lain ladang, lain belalang. Steve bercerita bahwa kesabarannya dalam memilih pacar suatu hari membuahkan hasil. Dia dikenalkan oleh temannya yang bekerja sebagai sekertaris pribadi seorang konglomerat yang mempunyai beberapa perusahaan yang terdaftar di bursa efek dengan putri sulungnya. Amboi! tiba-tiba dia dipresentasikan dengan opsi Marrying Up! Tiga bulan berselang entah Steve kebelet kawin kaya atau tidak terima kalah dengan teman karibnya, naiklah janur kuning berlapis emas.

Ketiga teman cowok saya memang amazing. Dibalik balutan jas Armani dan Zegna serta apiknya Hermes yang mendampingi istri-istri mereka, ada itikad dan kelakuan positif yang sistematis dengan underlying otak yang encer untuk mewujudkan ambisi mereka. Mereka tidak asal menyerah sama nasib. Mereka in charge dengan hidup mereka. Siapa kira Langit tidak mendengar suara hati mereka? Posibility is infinte!

Tidak ada komentar: