Senin, 11 Agustus 2008

Cost of Ignorance

Baru saja sampai rumah, anak saya yang yang berusia enam tahun memberikan laporan bahwa pagi ini teman-temannya yang gendut disuruh lari keliling lapangan sebelum memulai kelas, katanya biar kurusan. Masih tertegun sama cerita itu, istri menceritakan dengan wajah berseri bahwa dia baru mesotherapy tadi pagi sebagai upaya mempertahankan lingkar perutnya. Terus istri bercerita bahwa dia memberikan hadiah untuk putri kami yang beranjak ABG berupa kursus pilates. Katanya untuk investasi supaya tidak mengelembung dimasa pertumbuhan remajanya. Sebelum tidur, saya mendapat cerita lagi bahwa mertua lelaki harus operasi kedua tempurung kaki yang sering sakit karena beban diatasnya berlebihan

Minggu berikutnya sekeluarga dengan mertua ada acara makan siang bersama. Seperti biasa, opanya anak-anak selalu memuji-muji anak saya yang bungsu karena impian dia mempunyai cucu yang doyan makan seperti dia terwujud. Saya dan istri juga sering terkagum-kagum melihat anak-anak kita punya bakat kuliner untuk makanan resto.
Tapi seringkali perlu diancam-ancam kalau makan dirumah. Sejujurnya saya lebih senang dan gemas melihat anak-anak saya rada gendut dan gembil daripada langsing. Ketika melihat ada yang mulai susut langsung protes ke istri dan baby sitter.

Melihat keadaan mertua lelaki saya, mendengar usaha istri, menoleh perut saya, dan anak-anak seperti melihat satu kesatuan waktu - past, present and future yang sedang terjadi bersama-sama. Kalau saya tidak mengontrol cita rasa kuliner anak bungsu saya maka kemungkinan besar dia akan mengalami sakit yang dialami opanya sekarang. Volume perut tidak seimbang dengan lebar betis, akibatnya sikilnya (dengkul) sakit. Saya juga masih mempertanyakan apakah investasi pilates ke putri kami akan memberikan paybak period yang berkesinambungan? Saya khawatir kita mengobati symptom bukan root cause. Argumen saya tetap go to basic, kesadaran hidup sehat adalah disiplin berolahraga, makan sehat dan secukupnya. Istri saya memberikan sisi lain bahwa memperkenalkan metoda baru dapat memberikan pencerahan dan kebetulan anaknya suka. Bener juga yah!. Kalau tidak benar, jangan-jangan kalau dia sudah dewasa menuntut liposuction!

Saya dan istri terkesima menonton DR.OZ di acara Oprah yang memberikan tips fighting your age body dan serta merta membeli bukunya. Saya rela membeli alat pengetar tubuh yang cukup berdiri dan digetarkan oleh alatnya. Alasan membeli karena alat ini didesign untuk orang yang banyak alasan untuk tidak berolah-raga (gue banget!). Demikian juga istri saya rajin membandingkan referensi ahli untuk setiap produk kebugaran baru beserta cara-cara terbaru penciutan sedot lemak. Realitasnya saraf di otak kita belum ada yang putus. Senangnya mendengar dan menonton yang bagus-bagus merasa mendapat pencerahan, tapi stop disitu saja. Sama dengan kita punya agama dari lahir, senang dicekokin apa yang benar dan salah sepanjang hidup dan lebih getol lagi mencekoki anak-anak. Urusan masuk surga adalah simple rumusnya yaitu displin menjalankan perintah-Nya. Sama dengan kesehatan, disiplin makan sehat, secukupnya dan olah raga.

Saya suka membayangkan waktu era jadul kakek nenek saya dulu. Mereka tidak terlalu memikirkan premi asuransi kesehatan. Makanannya tidak perlu dilabel organik, tidak ada perlombaan menyuruh orang makan dan makan terus dengan iming-iming diskon sampai 50%. Mereka tidak perlu happy hour karena memang sudah happy makan bersama dengan keluarga dirumah. Mereka lebih pintar mengelola keuangannya dengan menepis setiap kesempatan biaya yang timbul dari sikap ketidakpedulian. Makanya, tidak heran mereka lebih bisa menabung daripada kita, karena memang sikap ketidakpedulian sama seperti credit card yang menawarkan diskon besar-besaran untuk makan enak. Enak sekarang bayar belakangan, belum lagi akibatnya lebih jauh seperti kena kolesterol dan jantung! Belum lagi kalau bayarnya diangsur, ribet dah!

Tidak ada komentar: