Senin, 28 Juli 2008

Golfer: Go For Her!

Menurut gossip yang terkini yang namanya hiburan malam di Jakarta sudah lebih heboh dari Bangkok. Kebenarannya perlu diuji lebih lanjut. Tapi, bukan jenis ‘boys’ toys’ yang itu yang saya bicarakan disini, melainkan yang lebih classy – golf. Di sekitar Jakarta saja ada lebih dari 35 lapangan golf dengan kualitas international yang tidak kalah dengan negara manapun. Halim 3 punya rumput yang diimport langsung dari Amerika dan hanya dipunyai oleh 3 lapangan golf di Asia, Rancamaya punya the most breathtaking view, Bogor Raya punya tempat ganti yang paling luas dan nyaman sekali, ditambah dengan waitressnya yang kelas model (note: model biasanya lebih cantik dan lebih tinggi daripada kelas SPG lho!). Karawaci golf berani merekrut seorang mantan stewardess Singapore Airlines untuk meningkatkan profesionalitas service di restorannya. Dengan service level yang semakin tinggi, golfer semakin dimanjakan dan tidak heran padang golf berpotensi menjadi salah satu sumber devisa bagi negara kita. Persoalannya adalah alasan menikmati golf semakin banyak dan kadang-kadang menjadi rancu dari olahraga itu sendiri.

Kalau dahulu Golf diidentikan dengan permainan pria mapan dan ajang bisnis, kalau menurut saya bermain golf di Jakarta dan sekitarnya seperti melihat dan merasakan diri kita sendiri dan sekeliling kita dengan wallpaper panoramic view. Ibaratnya, kita berhadapan dengan laptop kita, segala aspek dari kehidupan ini muncul silih berganti tetapi dengan latar belakang pemandang yang indah sekali. Golf here is a boiling pot dari segala aktivitas bisnis, politik, refleksi diri, pertemanan, dan bahkan perselingkuhan! Hari gini susah dibedakan kalau kita bermain golf itu hobby atau pekerjaan? Dibilang hobby koq lebih sering di lapangan daripada ditempat kerja. Bilang meeting di Jakarta atau miting yang di lapangan Jakarta? Keduanya bisa dilakukan koq ditempat yang sama. Tidak heran kalau beberapa teman saya betah ngerumput seharian padahal handicapnya benar-benar seperti seorang Handicap. Itu juga mungkin alasan istri saya yang rajin menanyakan score bermain setiap kali pulang dan selalu dijawab dengan nada mumbling.

Dengan golf kita bisa merasakan dan menemukan hal-hal yang tidak bisa kita rasakan dalam rutinitas setiap hari. Salah satunya kita bisa merasakan bagaimana menjadi politisi Senayan. Coba deh kalau mainnya ada taruhan nya, kita pasti berbicara kepentingan sendiri dan kepentingan group. Apalagi kalau salah satu kita ada yang mau birdie (satu dibawah par), meskipun teman sendiri yang akan membuat prestasi, kita bisa berkoalisi dengan teman yang baru kenal untuk memberikan pressure supaya sang teman tidak menang alias mukulnya tidak masuk kelubang. Hati jadi lega karena orang lain tidak berjaya. Siapapun pemenangnya pasti kita ‘palak’ dari yang sekedar traktir makan, sampai aktivitas lanjutan yang tidak perlu dijelaskan disini. Teman saya mendapatkan Toyota Altis karena whole in one (waktu itu dia sekali pukul dari jarak 120-an meter langsung masuk lubang) di salah satu turnamen telekomunikasi di Surabaya. Baru sekejap dia tidak percaya atas apa yang dialaminnya, dia sudah dituntut sama Caddynya untuk memberikan minimum motor bebek Honda yang 10-juta an, belum lagi sms dari insurance agent yang minta komisi.

Disisi extreme yang lain, setiap bermain golf kita juga seperti berhadapan dengan Tuhan. Seperti hidup, kita diberikan begitu banyak kesempatan yang dibatasi dengan waktu dan segala aturan-Nya. Terlepas daripada itu, Tuhan memberikan free will kepada kita, artinya keputusan ditangan kita, mau punya kesempatan lebih ke surga atau neraka. Ada 72 kali kesempatan memukul dan niscaya setiap nilai dari pukulan tersebut dihitung sama-sama dan tidak bisa diulang. Kuncinya adalah setiap memukul kita harus fokus sehingga pukulan kita bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Teman saya memberikan tips sebelum memukul kita harus konsentrasi, dan membayangkan sejenak setiap steps dari gerakan untuk bisa menghasilkan hasil yang baik. Saya sudah bermain golf selama 8 tahun tetapi masih over double handicapped! (istilah awamnya tetap bodoh). Kadang-kadang saya bertanya juga serius ngak sih sama Golf? sebenarnya apa yang dicari di golf?. Jawabnya susah!…sama halnya kalau ditanya tentang hidup. Teman saya berkata “Boy will be boy and boy need toys” Mungkin kita lebih suka fun sidenya daripada seriusnya bermain golf. Selalu berharap bisa jadi Professional atau singkatnya dipanggil Pro (single handicapped) tapi sejatinya kita lebih menikmati pemandangan yang luar biasa dipagi hari sambil bercanda ria dengan teman dan caddy yang ramah dan kadang genit. Sama dengan harapan muda senang, tua kaya raya, mati masuk surga.

Setiap golfer mestinya sudah nonton ‘Tin Cup’ yang diperankan oleh Kevin Costner. Film di tahun 1996 dimana Kevin berperan sebagai Roy McAvoy, professional golfer yang tidak jelas hidupnya dan kelibat hutang dimasa pensiunnya. Roy baru merasa benar-benar terbangun dalam hidupnya setelah dia berkenalan dengan murid barunya yang cantik Dr. Molly yang ternyata sudah berpacaran dengan teman lamanya yang menyebalkan, seorang pemain worldclass PGA (Professional Golf Association) – David Simms. Sejak saat itu, Roy mulai serius dengan dirinya dan berani menerima tantangan David untuk bertanding di US. Open (salah satu turnamen paling bergengsi di dunia). Di Jakarta dan sekitarnya, memang masih susah bertemu dengan sekelas Dr.Molly, lebih banyak waitress yang cantik dan caddy yang genit. Dan memang tidak perlu terlalu berharap ketemu dengan Dr. Molly karena kebanyakan sudah mempunyai ‘Molly’ dirumah.

Intinya, saya dan kebanyakan teman sesama penggemar golf tidak beda jauh dengan Roy McAvoy. Tidak pernah serius sama apa yang dilakonin dalam hidup. Lebih banyak ketawanya daripada mukulnya. Lebih suka melihat yang indah daripada berkonsentrasi. Sudah lama lupa sama dengan esensi bermain golf. Rancu sama segala kenikmatan yang ditawarkan oleh padang golf. Golfer is not Go For her.

Tidak ada komentar: