Selasa, 22 Juli 2008

Jakarta, My Soul City!

Teman saya, Peter Anderson, bule Eropa selalu berbinar mukanya kalau cerita waktu dia tinggal di Jakarta. Dia bilang Jakarta itu jiwanya hidup! Tiap hari bisa melihat energy bertahan hidup yang luar biasa dari tukang sampah sampai pejabat yang korupsi. So vibrant! Dia bilang selalu saja ada yang berubah, dari tanah lapang tiba-tiba jadi mall keren, kemarin polisi sibuk mastiin motor harus nyalain lampu sekarang nangkepin mahasiswa. Jakarta itu seperti lampu merah yang kedap-kedip mencoba mengatur lalu lintas tetapi sering mati sendiri karena kehabisan listrik. Terus, Peter juga bilang belum lagi urusan makanan, rendangnya enak, pecelnya bikin ketagihan. Untuk urusan yang satu ini dia putuskan untuk membawa pembantunya yang asli Indonesia ke negeri baru tempat dia kerja. Seengak-engaknya kerinduan dia dengan Jakarta masih ada yang tersisa.

Kalau dipikir, saya termasuk yang terbius sama ‘jiwanya’ Jakarta. Setuju banget udaranya kotor, macetnya ngeselin dan orangnya masih banyak yang katro terutama di jalan raya. Sampai-sampai, setelah graduate di States dulu saya dengan yakin memutuskan pulang kampung – balik Jakarta! Masih terbuai dengan omongan “kalau mau cari duit, Indonesia tempatnya”, bagai kerbau dicocok itunya, engak ada tempat yang lebih asyik dari Jakarta! Tapi jauh dilubuk hati yang terdalam ada visi yang tersembunyi dan berkata, “kayaknya Jakarta biar gimanapun menawarkan pilihan yang lebih banyak untuk mencari istri deh!”.

Hampir teman bule lelaki saya selalu membuat komentar “the problem with this place is too many beautiful girls!”. Saya selalu nyengir sambil menelan ludah mengiyakan. Tapi, itulah Jakarta! Meskipun perempuan cantiknya seabrek dari yang mata duitan sampai yang berlagak innocent, tetap saja saya susah mendapatkan yang pas. Belakangan saya sadar memang banyak yang cantik dan sexy di Jakarta jumlahnya kayak ayam KFC garing, renyah dan bikin kolesterol. Empat tahun jadi Yuppies (istilah jaman 90an) dengan segala ambisi dan napsu mencari Cinderella engak berhasil karena ternyata sedikit sekali cewek cantik di Jakarta yang baca buku!.

Akhirnya mungkin Bapa saya yang di surga bercampur perasaan kasihan dan khawatir sama kelakuan saya yang rajin clubbing daripada beribadah, digerakkanlah teman saya yang di Sidney untuk memperkenalkan saya lewat internet ke temannya yang perempuan (penting ditekankan perempuan). Setelah tiga bulan bergombal ria di internet saya akhirnya terpincut sama dia. Saya menemukan sosok Cinderella yang punya kualitas dari cara dia menulis di emails dengan gaya berbicaranya dialam nyata ternyata sinkron. Bahasa IT nya seamless interfaced. Beneran manusia, cewek dan encer. Oli di otaknya bagus, bisa diajak berdebat meskipun harus diakui dia lebih ngocor ngomongnya.
Pikir-pikir hidup ini bakalan lebih banyak porsi ngomongnya dari pada nge-sexnya. Untung aja ketika menemukan ‘that moment’ lagi engak ditemani dengan Martell. Singkat cerita saya berhasil mewujudkan visi terdalam saya waktu mutusin pulang kampung.

Momen itu yang membuat saya tambah cinta dengan Jakarta, buktinya saya masih bisa mendapatkan istri yang cantik, pintar tapi bulus, eh tulus maksudnya. Ternyata apa yang dibilang temen-temen bule saya ujungnya masih bisa di-aminin juga. Peter juga benar bahwa Jakarta is so vibrant dengan begitu banyaknya energy perubahan. Saya mengumpat, bercinta, berpikir, menangis, mendengkur dan di tolong sama bapa disurga di sini, di Jakarta. Jakarta is my soul city.

Tidak ada komentar: